Mie Mirip

Malam minggu kemarin diajak Pak Suami ke sebuah tempat makan yang letaknya ada di dalam pom bensin Mampang. Bukan sengaja dari rumah untuk makan disana, hanya kebetulan melintas saja. Mix Dinner & Florist namanya. Menu khasnya yaitu Mie mirip, dengan bahan dasar Indomie. Kedengarannya tidak terlalu istimewa karena apa bedanya dengan membuat mie sendiri di rumah atau makan di warung Indomie pinggir jalan. Bedanya, mie tersebut disajikan persis dengan gambar di kemasannya, lengkap dengan telur mata sapi untuk Indomie goreng atau paha ayam untuk Indomie Ayam bawang. Mie mirip ini dibanderol dengan harga yang menurutku cukup mengejutkan: Rp. 20.000. Jangan salah, yang ingin makan perlu mengisi buku waiting list terlebih dahulu karena kursi yang tersedia lebih sedikit dibanding tamu yang datang. Bangunannya terdiri dari dua lantai, tapi tidak terlalu besar. Dekorasi ruangan dibuat sesuai kebutuhan anak muda untuk nongkrong lama sambil berfoto dan kemudian di sebarkan melalui sosial media. Menarik!

20150314_181401

20150314_180859

20150314_182636

20150314_182809

20150314_183409

20150314_183434

Salam,
Shenia

Wirausaha Muda Mandiri 2015

Program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) merupakan salah satu kontribusi Bank Mandiri bagi pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia, yang dilakukan secara berkesinambungan dengan fokus pada generasi muda sebagai generasi penerus bangsa. Program ini dimulai sejak tahun 2007 dengan dilatarbelakangi dari keprihatinan Bank Mandiri terhadap besarnya jumlah pengangguran di Indonesia, terutama dari kalangan generasi muda. Program Wirausaha Muda Mandiri bertujuan mengubah pola pikir mahasiswa maupun kaum muda lainnya agar menjadi generasi yang mandiri dengan berwirausaha, sehingga setelah lulus kuliah, bukan menjadi pencari kerja namun sebagai pencipta lapangan pekerjaan. Dukungan yang diberikan oleh Bank Mandiri berupa pelatihan, pameran, pendampingan berwirausaha dan publikasi. Untuk informasi lebih detail bisa dilihat disini.

Wirausaha Muda Mandiri 2015 diadakan pada tanggal 12-15 Maret 2015. Informasi updatenya kudapat dari https://twitter.com/wrausahamandiri. Banyak orang hebat berkumpul dalam satu wadah. Bagaimana mungkin Aku melewatkan acara yang digelar setahun sekali ini. Anak muda berbakat yang berhasil terpilih dari seluruh penjuru Indonesia bergabung di megahnya ruang JCC, memamerkan produk dari buah pikiran mereka masing-masing. Ide briliant yang mereka tuangkan menjadi sebuah inovasi produk baru berwujud makanan, pakaian, kerajinan tangan, alat elektronik, alat musik, aplikasi di smart-phone, metode belajar untuk anak, alat olahraga, dan masih banyak lagi. Ide-ide tersebut tidak hanya berakhir menjadi sebuah produk, tapi juga dikembangkan menjadi sebuah usaha atau bisnis.

Pengunjung yang datang di acara Wirausaha Muda Mandiri 2015 sangat banyak. Setiap pengunjung tentu punya alasan atau motivasi yang berbeda-beda untuk meluangkan waktu hadir di acara tersebut. Aku sendiri datang dengan tujuan mencari idea tau peluang bisnis baru. Lagipula dengan cara ini juga sebagai bentuk dukungan dan apresiasi kepada sesama anak muda yang berwirausaha. Ini sangat perlu, karena kalau bukan kita, siapa lagi. Banyak inovasi produk yang aku kagumi disana. Creator/ founder mostly bener-bener anak muda (baca: early 20an). Yang paling aku ingat adalah ada seorang anak muda yang menciptakan alat/ media belajar khusus untuk anak disleksia. Saat itu booth mereka sedang ramai, sehingga aku tidak berkesempatan untuk mengetahui lebih jauh tentang produk yang mereka buat.

Ada apa aja sih di acara Wirausaha Muda Mandiri? Yang jelas ada puluhan booth, tempat fara finalis memamerkan karyanya, terus juga ada beberapa stand makanan bagi para tamu yang mungkin kelaparan atau sekedar ingin jajan dan juga ada sebuah panggung besar yang disediakan di tengah ruangan sebagai tempat workshop yang diisi oleh orang-orang yang menginspirasi. Saat aku datang, tema wokrshopnya adalah tentang social entrepreuneurship. Selain itu, yang paling mencuri perhatian sekaligus membuat berbeda dari expo WMM tahun-tahun sebelumnya adalah banyaknya artis Indonesia yang ikut berkontribusi sebagai wirausaha muda, diantaranya Nirina Zubir, Inneke Koesherawati, Andien Aisyah, Thomas Djorghi, Indra Bekti, Laudya Chintya Bella, dan masih banyak lagi yang tidak kuhapal semua. Kalau artis saja begitu semangat berwirausaha, apalagi aku yang hanya orang biasa (hehehe).

Setiap tahun sejak Wirausaha Muda Mandiri pertama kali diadakan, aku selalu menyempatkan diri untuk hadir. Karena aku selalu bersemangat dengan isu-isu wirausaha. Menurutku berwirausaha bukan hanya untuk keperluan financial, tapi ada kebutuhan eksplorasi diri dan eksistensi diri disini. Selain itu, yang selalu memotivasiku adalah keinginan untuk berkarya dan ingin karya tersebut bisa diterima dan bermanfaat bagi orang banyak. Who’s with me?

20150314_164018

20150314_171306

20150314_164417

20150314_165150

20150314_164139

Congrats for all the finalist & the winner of WMM, WSM & MYT. Wish you all a bright future as young, independent & creative entrepreneurs!

Sampai jumpa di Wirausaha Muda Mandiri 2016. Barangkali tahun depan aku dan ika(t)nia by @tenunikatshop bisa jadi salah satu finalisnya. :)

Salam,
Shenia

Surat Terbuka untuk Teman Perempuan

Untuk teman-teman yang masih dalam penantian,

Benar bahwa termotivasi untuk menikah adalah sebuah anugerah. Usaha-usaha yang tak kunjung membuahkan hasil biasanya akan berujung jadi galau, iri bahkan sampai putus asa. Percayalah, ini bisa mengancam kesehatan jiwa dan raga.

Temanku, jangan sampai galau, iri hati dan putus asa membuat kita lupa akan kewajiban kita. Kewajiban sebagai seorang hamba, kewajiban terhadap diri kita sendiri, kewajiban sebagai seorang anak, kewajiban sebagai karyawan, atau kewajiban sebagai mahasiswa. Ingatlah bahwa hak hanya bisa dituntut setelah terpenuhinya semua kewajiban.

Untuk teman-teman yang sedang dirundung kegelisahan,

Percayalah, bahwa Dia pasti akan datang. Dengan cara atau pada waktu yang bahkan kita tidak pernah duga sebelumnya. Asal kita tidak berhenti berusaha. Tingkatkan ibadah, perluas pergaulan dan buka hati jadi tips ampuh dariku, sebagai orang yang sudah melewati masa sulit itu. Mengenai standar sang calon yang sudah terpatri di dalam diri, suatu hari pasti bisa dinegosiasi begitu ketemu Dia yang memang pas di hati.

Temanku, adakalanya kita dapat menepis seluruh kegalauan hati, namun terkadang tekanan dari keluarga atau teman selalu berhasil menimbulkan keresahan-keresahan yang ujungnya menyibukkan pikiran. Mungkin itu terjadi karena masih adanya waktu luang yang tidak kita manfaatkan.

Selama menunggu, isilah hari-hari dengan kegiatan yang kita suka, kegiatan yang bermanfaat buat diri sendiri dan juga orang lain. Kalau suka baca, tantang diri untuk menulis. Kalau suka kerajinan tangan, ciptakan sebuah maha karya. Kalau ingin punya usaha fashion, coba belajar jahit atau desain. Kalau ingin keliling dunia, perdalam lagi kemampuan bahasa inggris. Kalau suka kegiatan sosial, gabunglah di komunitas-komunitas yang keren. Kalau merasa ilmu agama masih kurang, ikuti pengajian dan taklim. Kalau suka travelling, pergi dan ambillah pelajaran dari tiap perjalanan. kalau hobi masak, coba dikelola jadi bisnis. Kalau suka musik, pelajari satu alat. Kalau gemar olahraga, ikuti kejuaraan. Explore your self, follow your heart, do what you love, and have fun!

Karena percayalah, begitu menikah, waktu untuk menggali potensi diri menjadi sedikit berkurang. Fokus hidup sudah berubah haluan. Jangan sampai terjadi penyesalan. Lagipula menikah atau belum, sama-sama ada enak dan tidaknya. Hilangkan resah, susah dan gelisah, nikmati setiap waktu yang ada, karena mungkin esok tak lagi sama.

Mengenai pertanyaan kapan nikah, cukup jawab dengan senyuman. Siapa tahu itu adalah doa yang mungkin akan segera Tuhan kabulkan. Sekarang akupun sedang berjuang menjawab pertanyaan “kapan” yang lain sambil tetap mengisi waktuku dengan melakukan banyak hal yang kusuka yang tentunya bermanfaat bagiku. Jadi, mari kita senyum bersama.

Temanku, Semoga tulisan ini bisa (sedikit) menepis kegalauan hati di kala masih harus menanti.

Salam sayang,
Shenia

Snap and Tell a Story

SNAP AND TELL A STORY…so here is mine…

20150214_175254

I know this post is too late to be submitted to BEC, but I really interest with the theme. So let me finish mine now. But since I don’t have any random outdoor photo that I captured lately, so I use this. Pardon our wefie. FYI, I was begging him to do this photo while he seems busy with his phone. Well, That guy is a best friend of mine. He is a nice friend to talk to, to laugh with and even to cry on. We both (actually me) love to go to a public park. The reason is very simple: it is free and fun. That day we went to Taman Ayodia, which is located not too far from BlokM Plaza, South Jakarta.

In the Saturday afternoon, this public park is quite crowded. Most of them are families with their kids. I think kids must be very happy to spend time there, because the park is big enough so they can run freely. I love its clean area and the trees here and there. We sit at the bench and talk about everything, from A to Z about our dreams, our plans, our likes and dislikes about each other, and so on. Such a romantic afternoon, hehehe.

At five we decided to leave that park and I ask him to treat me a dinner. Guess, what we had? Ayam Bakar Gantari for sure! Me likey. Saturday night is always amazing. Sooo many people go outside especially to eat. That place is crazily full. We have to wait around 20 minutes to taste the delicious ABG. For a hungry people, 20 minutes feel like forever. While waiting we just drink to keep our stomach alive. Once I am done with my orders, I even plan to order more to take it home hahahaha.

Well, do you guys love to visit public park, too? What about visit it together? Doing some weekend picnic, maybe? Sounds interesting!

Love,
Shenia

Wisata ke Malang

Kalau ada rencana ingin menghabiskan waktu libur dengan berwisata di dalam negeri, Batu-Malang bisa jadi salah satu alternatifnya. Kenapa? Berikut ceritaku menghabiskan 4 hari disana pada November 2014 lalu. FYI, kami sudah menyusun itinerary (termasuk membeli tiket kereta pp, menyewa guest house, dan ikut open trip to Bromo di sebuah travel agent) jauh sebelum hari H dengan berdasarkan hasil browsing dan tanya ke beberapa kerabat.

Day 1; Stasiun Senen

Aku dan suami plus adikku bersama suaminya berangkat dari Stasiun Senen Jakarta dengan menggunakan kereta api. Sore itu keadaan stasiun tidak terlalu sesak dan kereta yang kami tumpangi pun hanya setengahnya yang terisi. Bagiku yang jarang menggunakan kereta untuk jarak jauh, 12 jam terasa lumayan menyiksa karena tempat duduknya yang berjarak sempit satu sama lain membuatku kurang nyaman. Untungnya, menjelang malam suami ikutan aksi penumpang kereta lain yang menggelar selimut (yang disewa dari petugas KAI) untuk dijadikan sebagai alas tidur alias “ngampar” di sepanjang lorong kereta.

20141113_171559

Day 2; Stasiun Malang – Guest House – Jatim Park 2 – BNS – Guest House

Begitu kereta sampai di Stasiun Malang, kami langsung menyerbu pintu keluar untuk menghirup udara bebas (berasa keluar dari tahanan yak) sembari meregangkan sendi-sendi yang kaku. Berhubung sudah kelaparan, kami jajan bakso bakwan malang yang mangkal di depan stasiun. Rasanya sih biasa aja tapi berhubung semaleman kami ngga makan apa-apa cuma ngemil chiki dan biskuit jadi ya habis aja sih. Untuk menuju guest house, kami menyewa sebuah taksi. Yang dimaksud taksi disini adalah mobil pribadi yang disewakan sesuai tujuan si penyewa, harganya bisa ditentukan pakai argo atau langsung tawar menawar dengan supirnya. Ternyata penginapan kami terletak di dalam sebuah kompleks perumahan yang cukup jauh dari jalan raya. Akhirnya kami meminta supir taksi untuk menunggu kami mandi untuk kemudian diantarkan ke tujuan wisata pertama yaitu Jatim Park 2.

Di Jatim Park 2, dengan membayar tiket Rp. 80.000an/ orang (kalo ngga salah), kami bisa masuk ke 2 wahana yaitu Museum Satwa dan Batu Secret Zoo. Tamasya di tempat itu kira-kira dimulai jam 1an dan berakhir sekitar jam 5an. Iya lama, karena tempatnya emang luas banget dan tiap sudut wajib diabadikan alias kelamaan foto-foto. Pastikan pakai outfit (termasuk alas kaki) yang tepat supaya kaki ngga cepet capek apalagi sampe lecet karena lokasinya mostly outdoor. Overall, tempat ini keren dan bersih, recommended deh pokoknya.

Jam 5 teng kami sudah ada di dalam sebuah taksi yang akan membawa kami ke Batu Night Spectacular (BNS). Tempat ini tidak terlalu jauh dari Jatim Park 2 (ngga sampai 5 menit) jadi kami putuskan pakai kargo dan ternyata cukup lima belas ribu rupiah aja, pemirsa! Disana kami memutuskan untuk makan dulu di foodcourtnya. Yang tidak akan terlupakan adalah rasa dan harga makanannya yang endang bambang gulindang murah meriah sumringah. Nah, BNS ini isinya kayak pasar malam gitu deh. Banyak permainan untuk anak-anak. Tempat paling favorit disini yaitu satu area yang isinya lampion-lampion cantik.

Jam 8an kami menghubungi nomor hp supir taksi yang tadi mengantar kami ke BNS untuk mengantar kami kembali ke guest house. Bagian minta nomor hp ini penting untuk aku bahas, karena kalau malam taksi agak sulit didapat. Begitu sampai di tempat menginap, kami yang menyewa 2 kamar langsung mandi, sholat dan beberesan karena malam itu juga sekitar jam 12an, tim open trip to Bromo akan datang menjemput.

20141114_122806

20141114_132122

20141114_134222

20141114_163738

at BNS

at BNS

Day 3; Bromo – Museum Angkut – Beli oleh-oleh

Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, kami angkut semua barang ke dalam mobil yang datang menjemput. Iya, di guest house tersebut kami merasa seperti numpang taruh barang saja hahaha. Perjalanan menuju bromo kurang lebih memakan waktu 3 jam-an. Ngga terasa sih soalnya sepanjang jalan tidur! Terus, kalau tiba-tiba badan menggigil kedinginan itu artinya udah tiba di lokasi. Pastikan bawa jaket tebal, sarung tangan, pakai sepatu tertutup dan kalau perlu tambah penutup telinga dan leher (baca: scarf/ syal). Wisata Bromo ini kami mengunjungi 4 titik yang selama perjalanannya di tempuh dengan mengendarai Jeep (ini sudah termasuk paket dari travel agent yang kami sewa). Supir Jeep juga sekaligus jadi travel guide yang selalu siap lahir batin menjawab setiap pertanyaan kami mengenai Bromo. Oiya, sayangnya kami ngga naik ke puncak Bromo karena ngga sanggup. Mau sewa kuda, tapi juga kasihan sama kudanya yang nanti ngga sanggup membawa kami hehehe. Terus terang wisata Bromo ini menguras tenaga tapi pokoknya capek badan terbayar banget sama pemandangan alamnya yang aduhai. Ngga berhenti ngucap Subhanallah, Alhamdulillah, Allohuakbar!

Puas menikmati keindahan Bromo, kami turun gunung sekitar jam 12 siang, setelah sebelumnya disuguhkan makan siang prasmanan oleh pemilik travel. Baru sampai di guest house kedua yang letaknya di daerah batu jam 3an. Sesudah istirahat, sholat dan mandi, kami jalan kaki 5 menit menuju Museum Angkut. Disana kami harus membayar Rp. 80ribuan untuk tiket masuk. Sebagai informasi, Museum Angkut ini wajib dikunjungi banget, soalnya amazed banget sama isinya yang kerennya ngga kalah sama Universal Studio Singapore! Pastikan bawa kamera yang hasil jepretnya bagus untuk kondisi indoor. Oh iya, kalau perut dalam keadaan lapar, mending makan dulu di pasar apung yang letaknya bersebelahan dengan Museum Angkut ini. Makanan dan minumannya enak-enak dan harganya cukup ekonomis untuk ukuran jajanan di tempat wisata. Sebagai informasi, Museum ini bukanya mulai jam 11 dan tutup jam 8 malam.

Tepat jam 8an, kami dijemput oleh family dari Surabaya dan diantarkan untuk membeli oleh-oleh yang letaknya tidak jauh dari museum. Lagi-lagi jajanan untuk oleh-oleh pun dibandrol dengan harga yang sesuai dengan harapan, jadi puas “mborong” keripik aneka buah khas Malang. Setelah memastikan belanjaan cukup untuk dibagikan untuk keluarga dan teman di Jakarta, kami pulang menuju guest house untuk menikmati istirahat dengan sejuknya udara di Batu.

20141115_050707

20141115_050745

20141115_052211

20141115_052400

20141115_072249

20141115_074102

20141115_074229

20141115_090243

20141115_165327

20141115_172530

20141115_162745

Day 4; Sentra Kerajinan Keramik Dinoyo – Stasiun Malang

Sekitar jam 9 pagi kami sudah siap untuk memasukkan semua barang-barang ke bagasi mobil yang dipinjamkan oleh family dari Surabaya. Setelah kenyang sarapan dengan menu prasmanan yang disajikan guest house, kami bergegas menuju Sentra Kerajinan Keramik Dinoyo. Home industry ini juga termasuk wisata khasnya Malang. Kami kesana memang sengaja mau cari yang lucu-lucu, namanya juga ibu ibu. Sekitar jam 12 kami sudah sampai di Stasiun Malang untuk kembali ke Ibukota, dengan sebelumnya membekali diri dengan nasi bungkus yang dibeli di Warung Masakan Padang yang terletak di depan Stasiun demi perut kenyang, hati senang, tidur pun tenang.

Sekian perjalanan kami selama di Malang. Jadwalnya cukup padat, jadi pastikan sebelum dan selama perjalanan kesehatan tetap terjaga. Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman yang berencana plesir ke Malang. Salut buat Malang – Jawa timur, kota kecil dengan potensi destinasi wisata yang cukup besar. Bangga sudah pernah menjejakkan kaki disana.

Salam,
Shenia