Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah…
Sebelum mulai menulis ini, aku sengaja mencari dan membaca ulang posting terkait.
http://sheniananda.com/ingin-punya-rumah/
http://sheniananda.com/kecewa/
Kemudian aku meyakini bahwa Allah maha pendengar dan pengabul doa, namun memang semua ada waktunya.
Setelah sempat lama mulai melupakan keinginan untuk memiliki rumah, suatu waktu mamaku mulai gencar lagi mengingatkan.
Mama mengajak aku untuk survey perumahan di dekat rumah temannya yaitu Bintara (Bekasi).
Aku membonceng mama dengan sepeda motor menempuh perjalanan kurang lebih 60 menit ke tempat tersebut.
Kali pertama kami datang, teman mama dengan baiknya mengantar kami mutar-mutar di sekitar rumah tinggal beliau.
Kemudian kami jatuh hati pada satu rumah, namun ternyata harganya belum sesuai.
Minggu berikutnya kami datang lagi, masih dengan mengendarai motor aku membonceng mama demi meraih asa lama.
Kali kedua kedatangan, kami kembali diajak mutar-mutar mencari perumahan, kali ini dengan jarak tempuh sedikit lebih jauh.
Lagi, kami jatuh hati pada sebuah rumah (over credit) tipe 36 dengan luas bangunan 72 di sebuah perumahan.
Aku pribadi awalnya kurang suka karena menurutku ukuran tanahnya terlalu kecil. Uang muka dan cicilan juga bisa dibilang mahal.
Namun karena suasana perumahannya bagus (menurut mama) dan aksesnya juga bagus (masih menurut mama), kami sepanjang jalan berdiskusi seru mengenai rumah tersebut. Iya, diskusi ibu dan anak di atas sebuah motor matic dengan laju pelan dan semilir angin sejuk ditambah khayalan melambung tinggi akan menjadi penghuni di rumah 36/72 itu.
Malamnya aku langsung menghubungi pacarku, aku ceritakan hasil surveyku hari itu.
Aku sampaikan juga beberapa alasan mama yang mendukung penuh untuk kami segera “mengambil” rumah itu.
Setelah cukup meyakinkannya, pacarku pun setuju. Entah benar-benar setuju atau memang pasrah atau manut apa kata calon mertua (ciyeeee!)
Esoknya Ia menghubungi sang marketing, buat janji untuk ketemu pada Sabtu berikutnya.
Pada hari yang sudah dijanjikan, aku, mama dan pacarku datang ke perumahan itu. Setelah diskusi panjang, kami putuskan untuk memberikan tanda jadi pada sang marketing (padahal saat itu, uang kami belum cukup untuk bayar uang over credit-nya).
Beberapa hari kemudian, tanpa sepengetahuanku, pacar banyak cari info rumah di wilayah Bekasi dari beberapa temannya.
Suatu hari ia ceritakan padaku bahwa dengan harga “segitu” (baca: perumahan yang sudah kami beri tanda jadi) kami bisa dapat cash bahkan ukuran tanah jauh lebih besar.
Penasaran, Sabtu berikutnya kami sambangi rumah teman pacarku itu. Masih wilayah Bekasi Utara, Perwira/ Kaliabang nama tenarnya.
Begitu sampai di rumah teman pacar, kami diajak survey ke 4 rumah. Kami menjatuhkan pilihan pada 2 rumah. Benar saja, harga rumah disitu jauuuhh lebih masuk akal dan ukuran rumahnya jauh lebih luas.
Karena antusias sekali, esoknya aku mengajak Papa dan Mama untuk melihat langsung dan meminta pendapat. Pacar tidak ikut karena ada kerjaan.
Sepanjang perjalanan aku cukup ketar ketir. Aku khawatir Papa Mama tidak cocok atau tidak mendukung.
Setibanya disana, dengan diantar teman pacar, kami mendatangi lagi 2 rumah yang sudah kutaksir sebelumnya.
Pada hari itu, ada tambahan satu rumah yang kami survey. Sebuah rumah (yang menurutku sangat luas) yang sedang dikontrakkan dengan bangunan masih asli dan belum sempurna.
Saat itu juga mama berbisik padaku, “Mama suka ini, Kak”.
Dalam perjalanan pulang, aku ajukan pertanyaan pada kedua orangtua yang sangat aku hormati dan syaangi itu.
S: Gimana Pa, Ma?
P: Papa suka yang rumah kedua kita survey.
M: Mama sih yang terakhir itu tadi.
P: Papa juga deh.
S: Alhamdulillah (duduk manis dengan senyum simpul mengembang di jok belakang)
Segera kusampaikan berita baik itu pada Pacarku. Ia pun segera menghubungi temannya untuk meminta nomor hp sang pemilik rumah tersebut.
Ia segera menghubunginya dan melakukan negosiasi.
Setelah deal, Kamis malam ia datang lagi kesana untuk memberikan tanda jadi.
Oh ya, rumah sebelumnya yang sudah kami beri tanda jadi, kami batalkan dan uang tanda jadi kembali 100 %.
Jumat malam aku dapat berita yang mengecewakan. Pacarku bilang sang pemilik rumah belum tentu jadi menjual rumah tiu kepada kami, karena sebelumnya sudah ada sekitar 3 orang yang juga menginginkan rumah tersebut.
Kusampaikan berita itu pada Papa Mama. Kami sedih dan kecewa sekali. Kusimpulkan, bahkan punya uang saja belum cukup untuk bisa punya rumah.
Tergantung apakah sang penjual mau menjual (baca: mempercayakan) rumah tersebut kepada calon pembelinya.
Untuk menghibur diri, dalam hati kutanamkan, kalau jodoh ngga kemana. tidak ada ayang bisa kami lakukan selain berdoa.
Pemilik rumah berjanji akan mengabari keputusan pada siapa rumah tersebut akan dijual pada hari Minggu pagi.
Sabtu malam, aku beberapa kali terbangun dari tidur, karena kepikiran. Berdoa, hanya itu yang bisa kulakukan.
Dan tibalah hari yang dinanti itu.
Sekitar jam 11, ketika aku sedang menghadiri ulang tahun sepupuku, aku mendapat bbm dari pacar.
“Alhamdulillah, rumah jadi dijual ke kita”
Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah…ada rasa haru menyeruak, Allohuakbar, Allah adalah sebaik-baik penolong.
Langsung kukabari papa mama yang disambut dengan sukacita pula. Rasanya ingin peluk mereka saat itu juga.
Kamis, 30 Mei, Pemilik rumah datang ke rumah kami untuk silaturahmi.
Beliau menceritakan beberapa alasan kenapa akhirnya memutuskan menjual rumah tersebut kepada kami.
Alhamdulillah, kata itu yang pertama kali keluar dari mulut Aku, Papa, Mama dan Pacar.
Jumat, 31 Mei, Pacar, papa dan pemilik rumah melakukan transaksi di Bank.
Alhamdulillah, rumah tersebut sudah milik kami.
Tinggal pengurusan balik nama.
Aku segera melaksanakan sholat syukur.
Alhamdulilâhi syukran syukran, wa hamdan hamdan
(Segala puji bagi Allah; terima kasih, terima kasih, dan segala pujian kusam-paikan kepada-Nya)
Alhamdulillâhil ladzistajâba du’-âî wa a’thânî mas-alatî.
(Segala puji bagi Allah yang telah mengijabah doaku dan memberi permohonanku)
Semoga pengurusan administrasi rumah berjalan dengan mudah (dan murah)
Semoga rumah tersebut kelak menjadi ladang amal dan ilmu bagi kami
Dan semoga-semoga lainnya yang akan terus mengalir dalam setiap doa kami.
Aamiiiinn…

I do believe the power of dream and doa.
and also the power of ridho orang tua.
Ahamdulillah. Terima kasih Pa, Ma.
Enthusiastically,
Shenia